Ayah bunda yang mencitai buah hatinya,
saat ini kita akan sama-sama membahas tentang
cara mendidik si buah hati sesuai dengan karakter dari si buah hati itu
sendiri, pada dasarnya orang tua itu akan protektif terhadap anaknya, ini adalah
hal yang sangat wajar mengingat orang tua sangat ingin anaknya menjadi orang
yang sempurna di kemudian hari, namun apakah keinginan ini sesuai dengan apa
yang kita berikan kepada buah hati kita???
Untuk membahasnya maka kita harus
memposisikan diri kita sendiri sebagai seorang anak, tentu kita semua pernah
menjadi anak-anak, pada saat kita dibanding-bandingkan dengan anak lain
pastilah kita tidak suka, orang tua yang baik dalah senantiasa memberikan
suport terhadap anaknya, untuk memotivasi si anak, orang tua tidak perlu
membandingkan si anak dengan anak lain yang lebih segala-galanya dari dirinya,
padasaat kita akan memberi contoh tentang anak lain yang lebih berprestasi dari
nya maka hal yang biasa di katakan orang tua
adalah demikian
“ andy, tuh lihat angga dapat rengking 1, sementara kamu peringkat 2, seharusnya
kamu peringkat 1 dong !,”
nah perkataan yang
demikian kiranya kurang Pas bila diniatkan untuk memberi motivasi
kepada si anak, walaupun pada praktiknya orang tua menyampaikan dengan nada suara
yang halus dan intonasi yang memotifasi, kenapa demikian? pada umumnya seorang anak tidak akan suka bila dirinya di
banding-bandingkan dengan anak yang lainnya, hal ini karena si
anak akan merasa bahwa hasil usahanya tidak ada arti untuk orang yang dia cintai
(ayah_ibu), maka si anak mungkin akan merasa dirinya terbebani oleh keinginan
orang tua untuk mendapat nilai yang lebih memuaskan lagi, tolong hal ini jangan
di pungkiri ayah-ibu, karena ada beberapa karakteristik
yang terdapat dalam diri manusia saat di jatuhkan/dibandingkan
- Seperti kayu rapuh :: pada saat di injak maka dia akan patah
- Seperti per/spiral :: pada saat di injak dia akan melontar tinggi
- Seperti beton :: pada saat di injak dia akan tetap tidak berubah bentuk
Anak yang mempunyai karakter nomor 1 dia cenderung
menjadi anak yang lemah, jangan sekali-kali
membandingkan anak tipe ini dengan anak lainnya, jika pun ingin memberinya
motifasi gunakanlah kalimat yang indah dan mudah di terima hati si anak
misalnya “waaah, andy hebat bisa dapat rangking 2, rangking 2 sih mudah untuk
andy dapatkan, malah andy bisa tuh dapat rangking 1, ya kan nak... ”
senyum dan nada bangga yang di sampaikan oleh ibu_ayah kepada andy ini
akan menjadikan andy makin semangat karna andy merasa usahanya tidak sia-sia,
anak tipe ini harusnya di puji untuk menjadikan si anak ‘teguh hati’ dan tidak minder sehingga dia akan mampu menjadi lebih
baik lagi.
Anak dengan karakter nomor 2 dia cenderung
menjadi anak yang kuat, pada saat dia di jatuhkan entah oleh siapapun maka dia
akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna dari
orang yang di banding-bandingkan dengannya. Tidak masalah jika anak ini akan di
bandingkan dengan anak lainnya, namun tidak menjadikan si orang tua lupa untuk
tetap memuji anaknya demi kepercaya dirian si anak.
Anak dengan karakter nomor 3 dia cenderung masabodoh
(acuh tak acuh), anak dengan tipe ini sangat butuh motifasi untuk maju, bukan
membandingkan namun pujian dan teguran yang membangun si anak untuk lebih
berprestasi dan lebih percaya diri, anak dengan tipe ini biasanya mempunyai
kepercayaan diri yang tinggi sehingga dia merasa acuh tak acuh dengan
lingkungan sekitar, anak dengan tipe ini cenderung akan senang individu dari
pada berkelompok.
Untuk mengetahui anak kita termasuk anak
tipe nomor berapa maka tentunya kita sebagai orangtua harus senantiasa lebih
memperhatikan dan mengamati si anak, memahami dan menjalin komunikasi yang baik
dengan anak akan membuat kita lebih dekat dan mudah memahami karakter anak
kita. Pada saat nilai dia turun atau tidak seperti biasanya maka JANGAN
sekali-kali orangtua berkata “ kenapa nilai/prestasi prestasi kamu turun? Padahal kalau prestasi sudah turun maka untuk
menaikan prestasi kamu lagi itu susah loh”
JANGAN KATAKAN! karna kata-kata ini akan membuat si anak menjadi
kehilangan motivasi, katakanlah bahwa nilai yang saat ini turun adalah hal yang
biasa terjadi dalam dunia pendidikan, namun besok kamu pasti bisa dapat nilai
yang sempurna bahkan jauh lebih sempurna dari sebelumnya, senyum adalah bahasa
tubuh yang memotivasi Buah hati kita.
Demikian uraian saya kali ini tentang
karakteristik anak, saya menulis uraian ini berdasarkan hasil pengamatan saya
terhadap beberapa sampel dalam masyarakat dan teman-teman saya yang terdiri
dari bermacam latar metode pendidikan karakter usia dini dan remaja di keluarga
masing-masing, jika ada benar dari yang saya sampaikan itu adalah karna Allah,
namun jika ada keliru maka itu adalah semata-mata karna subyektifisme saya.
Trimakasih, semoga bermanfaat untuk para pembaca.. ^^,
wasalam....
intan fitriannisa